Ada Apa Dengan Budi

Anak Juragan yang Selalu Benar

Anak Juragan yang Selalu Benar

Pagi di Kampung Cibungur selalu dimulai dengan suara ayam berkokok, derit pintu kayu yang dibuka, dan aroma nasi hangat yang mengepul dari dapur-dapur warga. Matahari belum sepenuhnya tinggi, tapi kehidupan sudah bergerak.

Di antara rumah-rumah sederhana itu, berdiri satu rumah paling mencolok—rumah besar bercat putih dengan pagar besi hitam dan halaman luas. Itulah rumah Budi.

“Budiii! Bangun! Udah pagi!” teriak ibunya dari dapur.

Tidak ada jawaban.

Di dalam kamar yang luas dengan kasur empuk dan mainan berserakan, Budi masih menggeliat, menarik selimut, lalu menutup telinganya dengan bantal.

“Ah… bentar lagi…” gumamnya.

Ibunya, Bu Ratna, masuk sambil membawa segelas susu hangat.

“Budi, nanti telat sekolah.”

Budi membuka satu mata. “Nggak papa… kan aku anak Pak Haji Sulaiman,” jawabnya santai.

Bu Ratna hanya tersenyum. “Ya sudah, tapi tetap harus sekolah.”

Budi akhirnya bangun dengan malas. Ia tidak pernah benar-benar takut terlambat. Di sekolah, guru-guru mengenalnya sebagai anak dari juragan beras terbesar di kampung. Dan itu, tanpa ia sadari, membuatnya merasa lebih penting dari yang lain.

Setelah mandi dan sarapan, Budi keluar rumah. Di depan gerbang, beberapa anak sudah berjalan menuju sekolah. Mereka melihat Budi, lalu saling berbisik.

“Itu Budi…”

“Jangan dekat-dekat…”

Budi pura-pura tidak mendengar. Ia justru tersenyum lebar, seolah semua orang memang seharusnya memperhatikannya.

Di tengah jalan, ia melihat Junod.

Junod sedang berjalan pelan, membawa tas yang terlihat lebih besar dari tubuhnya. Bajunya rapi tapi sudah pudar warnanya.

“Junod!” teriak Budi.

Junod menoleh, lalu tersenyum lebar. “Eh, Bud!”

Budi langsung merangkul bahunya. “Kamu nungguin aku ya?”

Junod menggeleng cepat. “Enggak… aku lewat sini aja.”

Budi tertawa. “Sama aja.”

Mereka berjalan bersama.

Di perjalanan, Budi melihat sebuah pohon mangga di halaman rumah orang.

“Eh, Junod. Lihat tuh,” bisiknya.

Junod langsung tahu arah pembicaraan itu. “Jangan, Bud… itu punya Pak Darto.”

Budi menyeringai. “Justru itu.”

Ia langsung memanjat pagar dengan gesit. Tanpa pikir panjang, ia naik ke pohon dan memetik beberapa mangga.

“Bud, nanti dimarahin…” kata Junod cemas.

“Tenang aja. Aku kan Budi,” jawabnya santai.

Ia melempar satu mangga ke arah Junod. “Nih, buat kamu.”

Junod menangkapnya dengan ragu.

“Makasih…” ucapnya pelan.

Dalam hati, ia tahu itu salah. Tapi ia juga tidak tega menolak.

 … More

Sesampainya di sekolah, suasana kelas sudah ramai. Anak-anak duduk di bangku masing-masing.

Budi masuk dengan gaya santai, lalu langsung duduk di kursinya tanpa memperhatikan guru yang sudah berdiri di depan.

“Budi,” kata Bu Sari, wali kelas mereka. “Kamu terlambat lagi.”

Budi hanya tersenyum. “Iya, Bu.”

“Kenapa?”

“Bangunnya kesiangan.”

Anak-anak lain menahan tawa kecil. Tapi bukan karena lucu—lebih karena mereka sudah terbiasa.

Bu Sari menghela napas. “Lain kali jangan diulangi ya.”

“Iya, Bu.”

Tapi tidak ada rasa bersalah di wajah Budi.

Pelajaran dimulai. Namun, Budi tidak benar-benar memperhatikan.

Ia malah mencoret-coret buku, lalu melirik ke arah teman di depannya.

Tiba-tiba, ia menarik pensil anak itu.

“Eh! Balikin!” protes si anak.

“Pinjam,” jawab Budi santai.

“Belum bilang iya!”

Budi malah tertawa.

Junod yang duduk di sebelahnya hanya bisa diam.

“Bud, balikin aja…” bisiknya pelan.

Budi menoleh. “Kamu ribet banget sih.”

Namun beberapa detik kemudian, ia melempar pensil itu kembali.

“Ini. Jangan nangis.”

Anak itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil pensilnya dan diam.

Saat istirahat, anak-anak keluar kelas untuk membeli jajanan.

Budi berjalan ke kantin tanpa membawa uang.

Bukan karena tidak punya—tapi karena ia tahu ia tidak perlu.

Ia melihat seorang anak membawa roti.

“Eh, itu enak ya,” kata Budi.

“Iya…”

“Coba.”

Anak itu ragu. Tapi sebelum sempat menjawab, Budi sudah mengambil roti itu dan menggigitnya.

“Hmm, enak.”

“Itu punyaku…” kata anak itu pelan.

“Ya udah, bagi aja,” jawab Budi santai.

Junod berdiri di sampingnya.

“Bud…” katanya pelan.

Budi menoleh. “Apa?”

Junod tidak melanjutkan. Ia tahu Budi tidak akan mendengarkan.

Hari itu berlalu seperti biasa.

Budi tertawa, bermain, dan berbuat sesukanya.

Namun di balik itu, perlahan-lahan, lingkaran di sekitarnya semakin kosong.

Anak-anak tidak lagi mengajaknya bermain.

Mereka memilih menjauh.

Bukan karena mereka benci sepenuhnya.

Tapi karena mereka lelah.

Sore hari, sepulang sekolah, Budi duduk di depan kios beras milik ayahnya.

Kios itu besar, ramai, dan selalu penuh pembeli.

Karung-karung beras tersusun rapi. Beberapa pekerja mondar-mandir mengangkat barang.

Ayahnya, Pak Haji Sulaiman, duduk di kursi sambil mencatat.

“Bud, sekolah gimana?” tanyanya.

“Biasa aja.”

“Nilai bagus?”

“Ya bagus.”

Padahal belum tentu.

Ayahnya mengangguk. Ia percaya saja.

Budi melihat seorang pelanggan yang datang dengan pakaian sederhana.

Orang itu terlihat ragu saat berbicara.

Budi memperhatikan, lalu berbisik, “Kayaknya nggak mampu beli banyak.”

Ayahnya menatapnya sekilas. “Jangan begitu, Bud. Semua orang itu sama.”

Budi mengangkat bahu. Ia tidak benar-benar mengerti.

Di samping kios itu, ada sebuah lapak kecil.

Di situlah ayah Junod bekerja—seorang tukang jahit.

Mesin jahit tua terdengar berdetak pelan.

Junod duduk di sana, membantu memotong benang.

“Junod!” panggil Budi.

Junod langsung berdiri. “Iya!”

“Ayo main!”

Junod melirik ayahnya.

“Boleh, Pak?”

Ayahnya tersenyum. “Boleh. Tapi jangan lama-lama.”

Junod mengangguk, lalu berlari ke arah Budi.

Mereka bermain di lapangan kecil dekat pasar.

Budi memimpin permainan, seperti biasa.

“Sekarang kita main kejar-kejaran! Aku yang jadi penangkap!”

Semua anak terlihat ragu.

Tapi tidak ada yang berani menolak.

Permainan dimulai.

Budi berlari, tertawa, dan sengaja mendorong beberapa anak.

Saat ia mengejar Junod, ia menarik baju Junod sampai hampir jatuh.

“Bud!” teriak Junod.

“Ketangkep!” kata Budi sambil tertawa.

Junod hanya tersenyum kecil, meski lututnya sedikit lecet.

Saat matahari mulai tenggelam, anak-anak pulang satu per satu.

Tinggal Budi dan Junod.

“Kamu nggak capek?” tanya Budi.

“Capek sih…”

“Tapi seru kan?”

Junod tersenyum. “Iya.”

Budi duduk di tanah.

“Eh, Junod.”

“Iya?”

“Kenapa kamu masih temenan sama aku?”

Junod berpikir sebentar.

“Soalnya… kamu temanku.”

“Cuma itu?”

“Iya.”

Budi mengerutkan kening.

Ia tidak benar-benar mengerti.

Baginya, semua orang memang seharusnya ada di sekitarnya.

Malam hari, Budi kembali ke rumahnya.

Makan malam sudah siap.

Kakek dan neneknya juga ada di meja.

“Budi hari ini ngapain aja?” tanya neneknya.

“Main.”

“Sholat?” tanya kakeknya pelan.

Budi terdiam sebentar.

“Belum…”

Kakeknya mengangguk pelan. “Jangan lupa ya.”

“Iya…”

Tapi setelah itu, Budi langsung berlari ke kamar dan bermain lagi.

Sholat terlewat.

Lagi.

Di luar, malam semakin sunyi.

Di dalam rumah besar itu, Budi tertidur dengan nyaman.

Tanpa tahu, bahwa di luar sana, perlahan-lahan, hidupnya sedang bergerak ke arah yang tidak ia sadari.

Bahwa semua kemudahan yang ia miliki…

Tidak akan selamanya membuatnya bahagia.

Dan bahwa suatu hari nanti…

Ia akan bertemu seseorang yang mengubah segalanya.

Tapi untuk sekarang—

Budi masih percaya satu hal:

Bahwa dunia ini ada untuknya.

Dan bahwa ia selalu benar.

Next Episode