Aku tidak pernah bercita-cita menjadi penipu.
Dulu, aku hanya seorang karyawan biasa. Gaji pas-pasan, hidup juga pas-pasan. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang malam—lalu ulangi lagi keesokan harinya. Tidak ada yang spesial.
Namaku Raka.
Umurku 27 tahun saat semuanya dimulai.
Dan kalau kamu melihatku saat itu, kamu tidak akan pernah menyangka… bahwa beberapa bulan kemudian, aku akan menjadi seseorang yang dibenci banyak orang. Awalnya sederhana.
Sangat sederhana bahkan.
Hari itu aku sedang duduk di kantor, menatap layar komputer dengan mata kosong. Deadline numpuk, bos marah, dan saldo rekening tinggal angka yang bikin sesak dada.
Di sebelahku, Ardi—teman sekantor—tertawa kecil sambil melihat HP-nya.
“Kenapa ketawa?” tanyaku malas.
Dia mendekat sedikit, menurunkan suaranya.
“Gue baru dapet 2 juta.”
Aku langsung menoleh.
“Bonus?”
Dia menggeleng.
“Enggak… jualan.”
“Toko online?”
Dia tersenyum tipis.
“Bukan jualan biasa.”
Saat itu aku belum paham maksudnya. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuatku penasaran. Seminggu kemudian, aku mengerti.
Dan mungkin… itu adalah titik di mana hidupku mulai berubah.
… MoreArdi mengajakku makan siang di luar. Di sebuah warung sederhana, dia akhirnya bercerita.
“Lo pernah lihat orang jual barang murah banget di internet?” tanyanya.
“Sering.”
“Itu salah satunya gue.”
Aku tertawa.
“Terus?”
“Terus… barangnya nggak pernah gue kirim.”
Aku diam. Kupikir dia bercanda. Tapi wajahnya datar.
Serius. “Lo nipu?” tanyaku pelan.
Dia mengangkat bahu.
“Ya… istilahnya begitu.”
“Gila, Di. Bahaya itu.”
“Bahaya kalau ketahuan,” jawabnya santai. “Ini nggak.”
Aku mulai tidak nyaman. Tapi di saat yang sama… aku juga penasaran.
“Emang bisa?”
Dia tersenyum, lalu membuka HP-nya. Menunjukkan chat, transferan, dan bukti-bukti. Nominalnya kecil. 100 ribu. 200 ribu. Kadang 500 ribu. Tapi banyak. Dan itu terjadi setiap hari. “Ini orang-orang nggak curiga?” tanyaku.
“Murah, Ka. Orang kalau lihat harga murah, mikirnya bukan logika lagi.”
Aku terdiam. Kalimat itu… entah kenapa menancap di kepalaku.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan kata-kata Ardi.
“Orang kalau lihat murah, mikirnya bukan logika lagi.”
Dan untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya pada diriku sendiri…
Kenapa gue capek-capek kerja mati-matian… kalau ada cara yang lebih cepat? Beberapa hari kemudian, aku mencoba.
Awalnya cuma iseng.
Aku membuat akun baru. Mengambil foto barang dari internet. Menawarkan harga yang sedikit lebih murah dari pasaran.
Tidak terlalu murah. Tapi cukup menarik. Aku tidak berharap apa-apa. Benar-benar tidak.
Sampai notifikasi itu muncul.
“Mas, ini masih ada?”
Jantungku berdegup lebih cepat. Tanganku gemetar saat membalas.
“Iya, masih.” Beberapa menit kemudian…
“Kalau transfer sekarang, bisa kirim hari ini?”
Aku menelan ludah. Ini nyata. Ini benar-benar terjadi. Aku hampir membatalkan semuanya.
Serius. Aku hampir menulis, “Maaf, barang habis.”
Tapi sebelum aku sempat mengetik… Notifikasi lain masuk.
“Saya transfer ya, Mas.”
Beberapa detik kemudian…Saldo rekeningku bertambah. 300 ribu rupiah. Aku menatap layar HP lama sekali.
Tidak ada barang. Tidak ada pengiriman. Tidak ada apa-apa. Hanya… uang. Dan di situlah…
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku memilih diam. Tidak membalas. Tidak mengembalikan. Tidak melakukan apa-apa. Malam itu, aku kembali tidak bisa tidur.
Tapi kali ini bukan karena stres. Melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Campuran antara takut… dan senang. Aku tahu ini salah.
Aku tahu ini dosa. Aku tahu ini bukan jalan yang benar. Tapi suara lain di dalam kepalaku berkata:
“Cuma sekali.”
“Nggak akan ketahuan.”
“Semua orang juga lakukan.”
Dan tanpa kusadari…Itulah kebohongan pertama yang aku percaya. Aku tidak tahu saat itu…
Bahwa 300 ribu rupiah itu…Adalah awal dari kehancuran hidupku. Dan aku sama sekali tidak menyangka… Bahwa suatu hari nanti…Salah satu korbanku…Akan menjadi alasan aku kembali kepada Allah.