Ada Apa Dengan Budi

Ada Apa Dengan Budi

Cahya T

2026 | 12 Episode | Santri, Kampus & Kehidupan Remaja | ★ 0.0 (0) | ❤ 0

Lihat selengkapnya
Baca Semua
Komentar Belum ada komentar
Episode
thumb FREE
01 - Anak Juragan yang Selalu Benar
0x dibaca

Pagi di Kampung Cibungur selalu dimulai dengan suara ayam berkokok, derit pintu kayu yang dibuka, dan aroma nasi hangat yang mengepul dari dapur-dapur warga. Matahari belum sepenuhnya tinggi, tapi kehidupan sudah bergerak.Di antara rumah-rumah sederhana itu, berdiri satu rumah paling mencolok—rumah besar bercat putih dengan pagar besi hitam dan halaman luas. Itulah rumah Budi.“Budiii! Bangun! Udah pagi!” teriak ibunya dari dapur.Tidak ada jawaban.Di dalam kamar yang luas dengan kasur empuk dan mainan berserakan, Budi masih menggeliat, menarik selimut, lalu menutup telinganya dengan bantal.“Ah… bentar lagi…” gumamnya.Ibunya, Bu Ratna, masuk sambil membawa segelas susu hangat.“Budi, nanti telat sekolah.”Budi membuka satu mata. “Nggak papa… kan aku anak Pak Haji Sulaiman,” jawabnya santai.Bu Ratna hanya tersenyum. “Ya sudah, tapi tetap harus sekolah.”Budi akhirnya bangun dengan malas. Ia tidak pernah benar-benar takut terlambat. Di sekolah, guru-guru mengenalnya sebagai anak dari juragan beras terbesar di kampung. Dan itu, tanpa ia sadari, membuatnya merasa lebih penting dari yang lain.Setelah mandi dan sarapan, Budi keluar rumah. Di depan gerbang, beberapa anak sudah berjalan menuju sekolah. Mereka melihat Budi, lalu saling berbisik.“Itu Budi…”“Jangan dekat-dekat…”Budi pura-pura tidak mendengar. Ia justru tersenyum lebar, seolah semua orang memang seharusnya memperhatikannya.Di tengah jalan, ia melihat Junod.Junod sedang berjalan pelan, membawa tas yang terlihat lebih besar dari tubuhnya. Bajunya rapi tapi sudah pudar warnanya.“Junod!” teriak Budi.Junod menoleh, lalu tersenyum lebar. “Eh, Bud!”Budi langsung merangkul bahunya. “Kamu nungguin aku ya?”Junod menggeleng cepat. “Enggak… aku lewat sini aja.”Budi tertawa. “Sama aja.”Mereka berjalan bersama.Di perjalanan, Budi melihat sebuah pohon mangga di halaman rumah orang.“Eh, Junod. Lihat tuh,” bisiknya.Junod langsung tahu arah pembicaraan itu. “Jangan, Bud… itu punya Pak Darto.”Budi menyeringai. “Justru itu.”Ia langsung memanjat pagar dengan gesit. Tanpa pikir panjang, ia naik ke pohon dan memetik beberapa mangga.“Bud, nanti dimarahin…” kata Junod cemas.“Tenang aja. Aku kan Budi,” jawabnya santai.Ia melempar satu mangga ke arah Junod. “Nih, buat kamu.”Junod menangkapnya dengan ragu.“Makasih…” ucapnya pelan.Dalam hati, ia tahu itu salah. Tapi ia juga tidak tega menolak.

Baca
thumb FREE
02 - Saat Semua Mulai Menjauh
0x dibaca

Pagi itu, suasana sekolah terasa berbeda bagi Budi.Biasanya, ketika ia datang, selalu ada saja anak yang masih mau menyapa, meski setengah terpaksa. Tapi hari ini, saat ia melangkah masuk ke halaman sekolah, beberapa anak justru berhenti bicara.Mereka saling melirik.Lalu… diam.Budi mengernyit.“Kenapa sih mereka?” gumamnya.Ia tetap berjalan santai, seolah tidak peduli.Di dekat kelas, ia melihat sekelompok anak sedang bermain kelereng.“Eh, gue ikut!” kata Budi sambil langsung jongkok.Anak-anak itu saling berpandangan.Salah satu dari mereka, Rian, buru-buru menutup lingkaran permainan dengan tangannya.“Udah mau selesai,” katanya singkat.Budi mengangkat alis. “Baru juga mulai.”“Enggak kok. Udah selesai.”Sunyi sejenak.Budi tersenyum tipis. “Yaudah, gue bikin sendiri.”Ia mengambil beberapa kelereng dari saku… lalu sengaja menembakkan kelerengnya keras ke arah permainan mereka.KRAK!Kelereng-kelereng itu berantakan.“Heh! Apaan sih, Bud!” protes Rian.Budi tertawa. “Biar seru.”“Itu nggak seru! Itu ganggu!” bentak anak lain.Untuk pertama kalinya, nada suara mereka tidak takut.Budi berhenti tertawa.“Apa?” katanya pelan.Rian berdiri. “Kami lagi main. Kenapa sih kamu selalu ganggu?”Budi ikut berdiri. “Lah, emang kenapa? Kalian juga main di sini.”“Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya!”Suasana mulai tegang.Junod yang baru datang langsung mendekat. “Udah… udah… jangan ribut…”“Diam kamu, Junod!” potong Rian.Junod langsung terdiam.Budi menatap Rian tajam. “Berani banget kamu.”Rian tidak mundur. “Kami capek, Bud.”Kalimat itu menggantung di udara.Capek.Budi tidak pernah mendengar itu sebelumnya.“Capek sama kamu,” lanjut Rian. “Kamu selalu ngerusak. Ngeganggu. Ngambil barang orang.”Anak-anak lain mengangguk.“Iya!”“Bener!”Budi mengepalkan tangan. “Terus kenapa?”“Kami nggak mau main sama kamu lagi.”Sunyi. Seolah waktu berhenti.  Budi tertawa kecil. Tapi kali ini… terdengar kosong.“Yaudah. Siapa juga yang butuh kalian.”Ia berbalik, lalu berjalan masuk kelas. Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang katanya tidak peduli.

Baca
Komentar
Belum ada komentar