Pondok Al-Hikmah pagi itu terasa aneh.
Bukan karena hujan.
Bukan karena listrik mati.
Bukan juga karena jadwal makan berubah.
Tapi karena…
terlalu damai.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada sandal beterbangan.
Tidak ada ustadz yang tiba-tiba menghela napas panjang sambil menyebut satu nama:
“...Badrun.”
Dan itu…
jujur saja…
mencurigakan.
Di kamar nomor 7, sumber dari segala keganjilan itu sedang duduk bersila.
Badrun.
Di depannya: selembar kertas putih.
Di tangannya: pulpen.
Di wajahnya: ekspresi serius yang jarang terjadi.
Sangat jarang.
Langka.
Hampir punah.
Di ranjang sebelah, Boni lagi makan kerupuk sisa semalam.
KRIUK.
KRIUK.
Ia melirik ke arah Badrun.
“Lo lagi apa sih?” tanyanya santai.
Tidak ada jawaban.
Badrun masih menulis.
Pelan.
Seolah setiap kata dipikirkan.
Boni mulai curiga.
Ia turun dari ranjang.
Mendekat.
Melongok.
Lalu—
diam.
“…loh?”
Ia membaca sepenggal kalimat.
“Assalamu’alaikum… sejak pertama kali aku melihatmu…”
Boni langsung mundur tiga langkah.
Kerupuk jatuh.
“ASTAGHFIRULLAH!”
Badrun langsung nutup kertasnya.
“Woi! Pelan dikit napa!”
“Lo… lo… lo nulis surat cinta?!”
“Ya iya lah!”
“KENAPA?!”
“Kenapa nggak?”
“INI PONDOK!”
“Justru itu.”
Boni pegang kepala.
“Gue belum siap mental buat ini.”
… MorePengakuan yang Mengguncang
“Ini buat siapa?” tanya Boni pelan.
Badrun menarik napas.
Lalu menjawab dengan dramatis:
“…Mita.”
Sunyi.
Hening.
Angin seolah berhenti.
Boni perlahan duduk di lantai.
“Gue… butuh air minum.”
Mita.
Santriwati paling tegas.
Paling disiplin.
Dan paling sering jadi korban keusilan Badrun.
Yang pernah—
- Diselipin kecoa plastik di kitab
- Disembunyiin sandal pas hujan
- Dikasih amplop kosong bertuliskan “RAHASIA”
Dan sekarang…
dikirimin surat cinta?
“Lo serius?” tanya Boni.
“Serius.”
“SERIUS BANGET?!”
“Serius dikit.”
“ITU NAMANYA NGGAK SERIUS!”
Ternyata… Bukan Cinta Biasa
Badrun menyandarkan badan.
“Ini bukan sekadar surat cinta.”
“Terus?”
“Ini eksperimen.”
Boni langsung berdiri.
“Gue cabut.”
“EH DENGERIN DULU!”
Badrun narik sarungnya.
“Gue pengen lihat reaksi manusia…”
“Ketika dapet sesuatu yang nggak dia duga.”
“Dan kenapa harus Mita?!”
“Karena dia paling susah ditebak.”
Boni menatap kosong.
“Dan paling berbahaya.”
Badrun senyum lebar.
“Makanya menarik.”
Surat yang Terlalu ‘Dalam’
Boni akhirnya duduk lagi.
“Baca coba.”
Badrun clearing throat.
Lalu membaca dengan penuh perasaan:
“Sejak pertama kali aku melihatmu, aku tahu kamu berbeda…”
“Kamu seperti cahaya di antara rutinitas pondok yang monoton…”
“Walau kamu sering marah, aku yakin itu karena kamu peduli…”
“Aku tidak berharap apa-apa… hanya ingin kamu tahu…”
Boni langsung angkat tangan.
“STOP.”
“Kenapa?”
“Ini bukan eksperimen.”
“Ini bikin orang baper.”
“Ya bagus dong.”
“Bagus buat siapa?!”
Rencana Sederhana (Yang Akan Gagal)
“Gini,” kata Badrun.
“Kita masukin surat ini ke kitab Mita.”
“Terus?”
“Kita lihat reaksinya.”
“Terus?”
“Seru.”
Boni menatap lama.
“Ini rencana paling nggak penting yang pernah gue denger.”
Operasi Diam-Diam
Waktu menunjukkan siang menjelang dzuhur.
Area santriwati relatif sepi.
Dan itu…
kesempatan.
“Sekarang,” bisik Badrun.
Boni sudah gemetar.
“Bud… ini udah melanggar wilayah.”
“Cuma bentar.”
“Kalau ketahuan?”
“Lari.”
“LO NGGAK PUNYA PLAN B LAIN?!”
Mereka masuk pelan-pelan.
Jalan jinjit.
Seperti maling…
tapi niatnya lebih nggak jelas.
Rak kitab terlihat.
Badrun langsung cari.
“M… Mita…”
“Ini!”
Ia menemukan satu kitab dengan nama “Mita” di sampulnya.
“Target ditemukan.”
Boni sudah setengah pingsan.
“Cepet…”
Badrun memasukkan surat itu.
Rapi.
Elegan.
Seperti profesional.
“Done.”
“CABUT!”
Kesalahan Kecil yang Berakibat Besar
Mereka tidak sadar satu hal:
Kitab yang mereka ambil…
bukan milik Mita.
Tapi milik…
orang lain.
Kelas Dimulai
Siang hari.
Kelas pengajian.
Semua santri duduk rapi.
Mita juga ada.
Badrun duduk di belakang.
Santai.
Terlalu santai.
Boni di sampingnya.
Gelisah.
“Bud…”
“Iya?”
“Gue nggak enak feeling.”
“Tenang.”
Ustadz Haris masuk.
Semua berdiri.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Beliau duduk.
Mengambil kitab.
Membuka halaman.
Lalu—
berhenti.
Detik-Detik Kehancuran
Ustadz Haris mengeluarkan sesuatu dari dalam kitab.
Selembar kertas.
Semua diam.
Badrun masih santai.
Boni mulai pucat.
Ustadz membuka kertas itu.
Membaca.
Pelan.
Alisnya naik.
Ekspresinya berubah.
“...siapa…”
Suara beliau berat.
“...yang menulis ini?”
Sunyi.
Isi Surat Dibacakan
Dan tanpa aba-aba—
Ustadz membaca keras-keras:
“Sejak pertama kali aku melihatmu…”
Seluruh kelas langsung heboh.
“EH APA ITU?!”
“Surat cinta?!”
“KE SIAPA?!”
Badrun langsung kaku.
Pelan menoleh ke Boni.
Boni sudah tutup muka.
“...kita mati.”
Kebenaran Terungkap
Ternyata—
kitab yang dibuka Ustadz Haris…
adalah miliknya sendiri.
Dan surat itu…
ada di dalamnya.
Badrun panik.
“Ini… ini nggak sesuai rencana…”
Boni pelan jawab:
“Lo emang nggak pernah punya rencana yang bener.”
Interogasi
“Siapa yang menulis ini?!” ulang Ustadz.
Tidak ada yang jawab.
Semua saling lihat.
Tiba-tiba—
satu suara dari belakang:
“ITU BADRUN, USTADZ!”
Semua langsung menoleh.
Badrun membeku.
“SIAPA?!”
“GUE LIAT DIA NULIS PAGI TADI!”
Boni pelan-pelan menjauh.
“Maaf ya, Bud… ini demi keselamatan bersama.”
“BONI!”
Sidang Terbuka
Badrun berdiri di depan.
Sendirian.
“Ini kamu yang menulis?”
“…iya, Ustadz.”
“Untuk siapa?”
Sunyi.
Semua menunggu.
“…awalnya buat Mita.”
Seluruh kelas:
“WOOOOOOOO!”
Mita langsung berdiri.
“Apa?!”
Ia berjalan ke depan.
Menatap Badrun.
“Jadi ini ulah kamu?”
Badrun nyengir kaku.
“Eksperimen…”
“INI BUKAN LABORATORIUM!”
Momen yang Berubah
Untuk pertama kalinya…
Badrun tidak langsung bercanda.
Ia diam.
Melihat Mita.
Yang terlihat…
benar-benar kesal.
“Kenapa harus aku?” tanya Mita.
Badrun membuka mulut.
Tapi tidak ada jawaban.
Hukuman
Ustadz Haris menarik napas panjang.
“Kamu tidak hanya melanggar aturan…”
“tapi juga mempermainkan perasaan orang.”
Kalimat itu…
kena.
Pelan.
“Mulai hari ini…”
“kamu dan Boni—”
“LOH KENAPA GUE IKUT?!” teriak Boni.
“—membersihkan perpustakaan.”
“Dan menghafal 20 hadits tentang adab.”
Perpustakaan: Tempat Tobat
Sore hari.
Sunyi.
Badrun menyapu.
Boni menyusun buku.
Tanpa bercanda.
Tanpa ketawa.
Aneh.
“Bud…” kata Boni pelan.
“Iya…”
“Menurut lo… kita keterlaluan nggak?”
Badrun berhenti.
Lama.
“…iya.”
Kesadaran Kecil
“Gue kira ini lucu,” lanjut Badrun.
“Gue kira orang bakal ketawa…”
“Tapi ternyata…”
“…nggak semua hal bisa dijadiin bercandaan.”
Boni mengangguk.
“Apalagi perasaan orang.”
Mita Datang
Tiba-tiba—
Mita muncul.
Mereka kaget.
“Badrun,” katanya.
“Iya…”
“Lain kali…”
“kalau mau bercanda…”
“…jangan pake hati orang.”
Sunyi.
Badrun mengangguk.
“…iya.”
Mita pergi.
Boni menatap Badrun.
“Lo tadi… serius?”
“…iya.”
“Gue takut.”
Malam hari. Badrun duduk sendiri. Membuka buku hadits. Pelan membaca.
“…adab sebelum ilmu…”
Ia menghela napas.
Lalu menoleh ke Boni.
“Eh.”
Boni langsung bangun.
“Apa lagi?!”
“Besok kita bikin lomba azan palsu—”
“BADRUNNNNN!”